Senin, 28 Januari 2013

cerita rakyat sasak



Kisah Doyan Nada

            Pada zaman dahulu kala. Hiduplah seorang wanita yang merupakan ratu jin yang tinggal di puncak gunung rinjani, ratu jin ini bernama Dewi Anjani. Konon Dewi Anjani memelihara burung yang bernama burung Beberi, burung ini berparuh perak dan berkuku baja
            Suatu hari Dewi Anjani diingatkan oleh Patih Songan akan pesan dari kakek Dewi Anjani yang berisi agar Dewi Anjani mengisi pulau Lombok dengan manusia. Kemudian Dewi Anjani mengajak Patih Songan untuk memeriksa seluruh daratan di pulau Lombok, setelah berkeliling Dewi Anjani mengetahui bahwa pulau itu penuh dengan hutan dan bukit oleh karena itu ia memerintahkan kepada burung Beberi untuk meratakan sebagian daratan dari pulau Lombok yang akan menjadi tempat bercocok tanam bagi manusia nantinya.
            Setelah burung Beberi berhasil meratakan daratan, Dewi Anjani memangil para jin. Kemuduan ia berkata “Wahai saudaraku, aku bermaksud mengubah wujud kalian menjadi manusia.”   Mendengar perkataan Dewi Anjani para jin sebagian ada yang setuju dan ada sebagian yang tidak setuju. Dewi Anjani sangat marah kepada jin yang tidak setuju dengan keinginanya kemudian ia menyuruh pengikutnya untuk menangkap jin yang menolak, para jin banyak yang berlarian untuk bersembunyi, ada yang bersembunyi di batu besar, pohon kayu, gua, dll.
            Setelah keadaan aman Dewi Anjani mengubah dua puluh pasang jin menjadi manusia dan kemudian menunjuk salah satu dari mereka sebagai pemimpin. Pemimpin yang ditunjuk oleh Dewi Anjani memiliki seorang istri yang baru saja melahirkan seorang anak lelaki, begitu lahir anak itu sudah pandai berlari, berbicara bahkan makan. Begitu anak itu meminta makan langsung diberi oleh ibunya, anak itu makan dengan lahap bahkan sampai tiga bakul besar nasi habis dimakannya sehingga anak itu diberi nama Doyan Nada.
            Karena ayah Doyan Nada seorang kepala suku maka ia sering diundang untuk menghadiri acara, Doyan Nada selalu minta ikut bersama ayahnya karena anaknya makan dengan sangat lahap, ayahnya menjadi malu dan ia sangat marah kepad Doyan Nada.
            Pada suatu hari Doyan Nada diajak menebang kayu di hutan bersama ayahnya, Ayahnya sengaja menyuruh Doyan Nada untuk berdiri tepat diarah kayu yang akan roboh, sehingga tubuh Doyan Nada pun tertindih pohon besar itu. Kemudian sesampainya di rumah  dan ditanya oleh istrinya dimana Doyan Nada, ia berkata “Mana ku tahu ia tersesat dihutan dan mungkin ia sudah dimakan oleh ular besar.”
            Dewi Anjani yang melihat kejadian dari anjungan istana di puncak gunung rinjani, langsung memerintahkan kepada burung Beberi untuk memercikan air Banyu urip, air itu dapat menghidupkan kembali orang yang telah meninggal. Setelah dipercikan air itu Doyan Nada hidup lagi kemudian kayu yang tadi dibawanya pulang kerumah sambil berteriak “ Ibu lihatlah hasilku mencari kayu...”.
            Diam-diam ayah Doyan Nada merasa takjub dan kemudian mencari akal lain. Keesokan harinya Doyan Nada diajak ayahnya pergi mencari ikan, ketika Doyan Nada sedang asyik mencari ikan diam diam ayahnya mendorong sebuah batu besar ke arah Doyan Nada dan akhirnya Doyan Nada meninggal. Ayahnya langsung cepat-cepat pulang ketika ia ditanya oleh istrinya ia pun berdusta lagi. Dewi Anjani yang melihat lagi  kejadian itu memerintahkan kepada Beberi untuk memercikan air Banyu urip dan kemudian Doyan Nada hidup kembali dan membawa batu besar tadi pulang kerumahnya.
            Pada suatu malam ibu Doyan Nada berkata kepada anaknya “Wahai anakku, jika engkau tetap tinggal disini ayahmu akan mencelakakanmu lagi, pergilah engkau carilah kehidupanmu sendiri sebagai bekal ibu buatkan kau tujuh buah ketupat.”
            Pada malam itu Doyan Nada menagis bersama ibunya, malam itu juga ia pergi mengembara, ia berjalan siang malam melewati hutan belantara,padang luas dilewatinya,sungai yang deras disebranginya dan anehya setiap kali ia bertemu hewan buas dan kemudian ia melemparkan ketupat buatan ibunya hewan buas itu akan menyingkir dan memberikan jalan kepadanya.
            Akhirnya Doyan Nada sampai di gunung rinjani, ketika ia sampai dia mendengar ada suara orang meringis kemudian ia mendekatinya ternyata suara itu adalah suara seorang petapa yang terlilit akar beringin yang sangat kokoh, kemudian Doyan Nada menolongnya dan kemudian mereka menjadi sahabat.
            Kemudian Doyan Nada melanjutkan perjalanannya bersama sahabatnya yang bernama Tameng Muter. Tiba-tiba mereka menemukan seorang petapa menangis kesakitan karena terlilit rotan dan kemudian mereka menolong petapa itu dan kemudian mereka menjadi sahabat.
            Setelah itu Doyan Nada melanjutkan perjalanan menuju puncak gunung rinjani,dan memburu seekor rusa untuk dimakan.  Suatu malam, dendeng rusa mereka dicuri oleh raksasa Lindaru. Doyan Nada sangat marah dan kemudian ia mengejar raksasa Lindaru sampai ke gua lindaru dan kemudia membunuh raksasa Lindaru. Disana Doyan Nada menemukan tiga orang wanita cantik yang merupakan putri yang disandera oleh raksasa Lindaru, mereka masing masing berasal dari Madura.Mataram,jawa tengah.dan Majapahit.
Doyan Nada pun memperistrikan putri dari Majapahit, Tameng Muter memperisti putri dari Mataram, dan Sigar Penjalin memperistri putri dari Madura.
            Pada suatu hari seorang nahkoda dari pulau jawa datang ke Lombok, mereka bertiga menerima kedatangan nahkoda itu dengan baik. ketika Nahkoda tersebut bertemu dengan ketiga putri. Nahkoda tersebut terpesona dengan kecantikan ketiga putri dan ingin menukar mereka dengan barang daganganya. Doyan Nada sangat marah kepada sang nahkoda dan kemudian ia memberi pelajaran kepada nahkoda lalu mengambil semua barang dagangan beserta anak buah dari nahkoda tersebut dan menjadikan nahkoda itu sebagai abdinya.
            Kemudian ketiga orang sahabat itu mendirikan kerajaan baru di Lombok, Doyan Nada menjadi raja selaparang, Tameng muter menjadi raja pejanggi dan Sigar penjalin menjadi raja sembalun, mereka pun hidup bahagia selamanya

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Senin, 28 Januari 2013

cerita rakyat sasak



Kisah Doyan Nada

            Pada zaman dahulu kala. Hiduplah seorang wanita yang merupakan ratu jin yang tinggal di puncak gunung rinjani, ratu jin ini bernama Dewi Anjani. Konon Dewi Anjani memelihara burung yang bernama burung Beberi, burung ini berparuh perak dan berkuku baja
            Suatu hari Dewi Anjani diingatkan oleh Patih Songan akan pesan dari kakek Dewi Anjani yang berisi agar Dewi Anjani mengisi pulau Lombok dengan manusia. Kemudian Dewi Anjani mengajak Patih Songan untuk memeriksa seluruh daratan di pulau Lombok, setelah berkeliling Dewi Anjani mengetahui bahwa pulau itu penuh dengan hutan dan bukit oleh karena itu ia memerintahkan kepada burung Beberi untuk meratakan sebagian daratan dari pulau Lombok yang akan menjadi tempat bercocok tanam bagi manusia nantinya.
            Setelah burung Beberi berhasil meratakan daratan, Dewi Anjani memangil para jin. Kemuduan ia berkata “Wahai saudaraku, aku bermaksud mengubah wujud kalian menjadi manusia.”   Mendengar perkataan Dewi Anjani para jin sebagian ada yang setuju dan ada sebagian yang tidak setuju. Dewi Anjani sangat marah kepada jin yang tidak setuju dengan keinginanya kemudian ia menyuruh pengikutnya untuk menangkap jin yang menolak, para jin banyak yang berlarian untuk bersembunyi, ada yang bersembunyi di batu besar, pohon kayu, gua, dll.
            Setelah keadaan aman Dewi Anjani mengubah dua puluh pasang jin menjadi manusia dan kemudian menunjuk salah satu dari mereka sebagai pemimpin. Pemimpin yang ditunjuk oleh Dewi Anjani memiliki seorang istri yang baru saja melahirkan seorang anak lelaki, begitu lahir anak itu sudah pandai berlari, berbicara bahkan makan. Begitu anak itu meminta makan langsung diberi oleh ibunya, anak itu makan dengan lahap bahkan sampai tiga bakul besar nasi habis dimakannya sehingga anak itu diberi nama Doyan Nada.
            Karena ayah Doyan Nada seorang kepala suku maka ia sering diundang untuk menghadiri acara, Doyan Nada selalu minta ikut bersama ayahnya karena anaknya makan dengan sangat lahap, ayahnya menjadi malu dan ia sangat marah kepad Doyan Nada.
            Pada suatu hari Doyan Nada diajak menebang kayu di hutan bersama ayahnya, Ayahnya sengaja menyuruh Doyan Nada untuk berdiri tepat diarah kayu yang akan roboh, sehingga tubuh Doyan Nada pun tertindih pohon besar itu. Kemudian sesampainya di rumah  dan ditanya oleh istrinya dimana Doyan Nada, ia berkata “Mana ku tahu ia tersesat dihutan dan mungkin ia sudah dimakan oleh ular besar.”
            Dewi Anjani yang melihat kejadian dari anjungan istana di puncak gunung rinjani, langsung memerintahkan kepada burung Beberi untuk memercikan air Banyu urip, air itu dapat menghidupkan kembali orang yang telah meninggal. Setelah dipercikan air itu Doyan Nada hidup lagi kemudian kayu yang tadi dibawanya pulang kerumah sambil berteriak “ Ibu lihatlah hasilku mencari kayu...”.
            Diam-diam ayah Doyan Nada merasa takjub dan kemudian mencari akal lain. Keesokan harinya Doyan Nada diajak ayahnya pergi mencari ikan, ketika Doyan Nada sedang asyik mencari ikan diam diam ayahnya mendorong sebuah batu besar ke arah Doyan Nada dan akhirnya Doyan Nada meninggal. Ayahnya langsung cepat-cepat pulang ketika ia ditanya oleh istrinya ia pun berdusta lagi. Dewi Anjani yang melihat lagi  kejadian itu memerintahkan kepada Beberi untuk memercikan air Banyu urip dan kemudian Doyan Nada hidup kembali dan membawa batu besar tadi pulang kerumahnya.
            Pada suatu malam ibu Doyan Nada berkata kepada anaknya “Wahai anakku, jika engkau tetap tinggal disini ayahmu akan mencelakakanmu lagi, pergilah engkau carilah kehidupanmu sendiri sebagai bekal ibu buatkan kau tujuh buah ketupat.”
            Pada malam itu Doyan Nada menagis bersama ibunya, malam itu juga ia pergi mengembara, ia berjalan siang malam melewati hutan belantara,padang luas dilewatinya,sungai yang deras disebranginya dan anehya setiap kali ia bertemu hewan buas dan kemudian ia melemparkan ketupat buatan ibunya hewan buas itu akan menyingkir dan memberikan jalan kepadanya.
            Akhirnya Doyan Nada sampai di gunung rinjani, ketika ia sampai dia mendengar ada suara orang meringis kemudian ia mendekatinya ternyata suara itu adalah suara seorang petapa yang terlilit akar beringin yang sangat kokoh, kemudian Doyan Nada menolongnya dan kemudian mereka menjadi sahabat.
            Kemudian Doyan Nada melanjutkan perjalanannya bersama sahabatnya yang bernama Tameng Muter. Tiba-tiba mereka menemukan seorang petapa menangis kesakitan karena terlilit rotan dan kemudian mereka menolong petapa itu dan kemudian mereka menjadi sahabat.
            Setelah itu Doyan Nada melanjutkan perjalanan menuju puncak gunung rinjani,dan memburu seekor rusa untuk dimakan.  Suatu malam, dendeng rusa mereka dicuri oleh raksasa Lindaru. Doyan Nada sangat marah dan kemudian ia mengejar raksasa Lindaru sampai ke gua lindaru dan kemudia membunuh raksasa Lindaru. Disana Doyan Nada menemukan tiga orang wanita cantik yang merupakan putri yang disandera oleh raksasa Lindaru, mereka masing masing berasal dari Madura.Mataram,jawa tengah.dan Majapahit.
Doyan Nada pun memperistrikan putri dari Majapahit, Tameng Muter memperisti putri dari Mataram, dan Sigar Penjalin memperistri putri dari Madura.
            Pada suatu hari seorang nahkoda dari pulau jawa datang ke Lombok, mereka bertiga menerima kedatangan nahkoda itu dengan baik. ketika Nahkoda tersebut bertemu dengan ketiga putri. Nahkoda tersebut terpesona dengan kecantikan ketiga putri dan ingin menukar mereka dengan barang daganganya. Doyan Nada sangat marah kepada sang nahkoda dan kemudian ia memberi pelajaran kepada nahkoda lalu mengambil semua barang dagangan beserta anak buah dari nahkoda tersebut dan menjadikan nahkoda itu sebagai abdinya.
            Kemudian ketiga orang sahabat itu mendirikan kerajaan baru di Lombok, Doyan Nada menjadi raja selaparang, Tameng muter menjadi raja pejanggi dan Sigar penjalin menjadi raja sembalun, mereka pun hidup bahagia selamanya

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar